Rabu, 28 November 2012

Bosan Kaya, Gagal Miskin

Sulit untuk melepaskan nama Bob Sadino (79) ketika membicarakan kewirausahaan (”entrepreneurship”) Indonesia. Ia berani keluar dari zona nyaman pekerjaannya sebagai karyawan sebuah perusahaan pelayaran dan ekspedisi di Belanda dan Jerman tahun 1967 pada umur 34 tahun. Menjelmalah dia sebagai pengusaha. a pulang ke Indonesia bersama karyawati Bank Indonesia Amerika Serikat, Soelami Soejoed, untuk menikah di Indonesia. Bob Sadino melarang istrinya bekerja. Ia sempat menjadi sopir ”taksi gelap” dengan mobil sedan hasil bekerjanya di Eropa, tetapi mobilnya tertabrak. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Bob Sadino sempat menjadi kuli bangunan. Pada awal 1970-an, seorang kawannya menyarankan agar Bob beternak ayam. Ia pun menjadi pelopor peternak ayam broiler dan usaha agrobisnis lainnya. Selain supermarket Kem Chicks yang terkenal itu, Bob Sadino mengusahakan pabrik sosis dan ham PT Kem Foods, pabrik pengolah sayur PT Kem Fams, serta usaha lain. Ekonom senior The Institute for Development of Economics and Finance, Didik J Rachbini, memasukkan Bob Sadino sebagai wirausahawan dengan ciri unik yang tidak lazim. Dia menjalankan bisnisnya dengan semangat terobosan kewirausahaan yang sangat kuat dan mendobrak. ”Bahkan, banyak sekali idenya menabrak pakem,” ujar Didik dalam pengantar buku Belajar Goblok dari Bob Sadino yang ditulis Dodi Mawardi (Kintamani Publishing, 2009). Ide-ide yang menabrak pakem dengan bahasa yang bersahabat, penuh tawa lepas, tetapi sama sekali tanpa basa-basi, dirasakan pula saat Kompas mewawancari Bob Sadino di rumahnya di Jakarta Selatan, Rabu (19/9) lalu. Berikut petikan wawancara dengan pria kelahiran Tanjung Karang, Lampung, 9 Maret 1933, yang bernama asli Bambang Mustari Sadino itu: Anda dikenal sebagai tokoh dan pelopor kewirausahaan, enterpreneurship. Saya sendiri tidak tahu apa itu pengertian entrepreneur (wirausahawan). Dikatakan saya pionir, bisa jadi. Saya pionir dalam memperkenalkan telur dan ayam (broiler) untuk bangsa ini. Dampaknya besar. Pionir dalam memperkenalkan sosis dan daging olahan. Yang geger, soal sayuran hidroponik, kan. Sampai Presiden (Soeharto) datang. Apa hebatnya, sih, Bob Sadino? Di Eropa, daging ayam, telur ayam (broiler) itu biasa. Sosis biasa. Tanaman hidroponik sudah 4.000 tahun lalu ditemukan di Babilonia. Bob Sadino hanya memperkenalkan itu. Begitulah kira-kira. Jadi, jika kita bicara entrepreneur, saya bingung juga. Ke mana kita kerucutkan. Semua orang bicara entrepreneurship. Semua bicara angka yang nggak karu-karuan. Saya minta bantuan Anda saja. Apa pemahaman Anda tentang entrepreneur? Orang yang berusaha sendiri dan menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain? Itu lebih mendekati. Saya sendiri tidak tahu istilah entrepreneur itu apa? Bagaimana menggugah agar jumlah entrepreneur meningkat? Ada angkanya, entrepreneur (di Indonesia) itu 0,02 persen, bukan 2 persen. Dua persen itu idealnya. Kita baru mencapai 0,018 persen. Zaman sekarang, kewirausahaan menggeliat. Sebagian karena kian sulitnya mendapat pekerjaan bagi lulusan perguruan tinggi. Yang sudah bekerja, banyak yang merasa pendapatan tidak mencukupi? Saya ada keprihatinan pada sarjana-sarjana ini. Karena sarjana ini kuadrannya ada di sebelah kiri itu, ”tahu”. Kognitif. (Bob memiliki konsepsi sendiri tentang kompetensi yang dia gambar dalam lingkaran berkamar empat. Kamar kiri bawah ada bagian ”tahu”, yaitu mereka yang memperoleh pemahaman secara pasif: dari buku, bangku sekolah, mendengar ajaran. Kamar kanan bawah adalah ruang ”bisa”, yaitu mereka yang terjun ke lapangan dan bergumul dengan kehidupan nyata. Kanan atas: ”terampil”, ketika kelompok ”bisa” berdialektika dengan apa yang diperoleh dalam ruang ”tahu”. Kamar kiri atas adalah ”profesional” atau ”entrepreneur”. Tingkatannya sudah lebih tinggi dari terampil.) Sudah kognitif harusnya, kan, ada gerakan yang namanya afektif. Untuk menjadi yang namanya keterampilan, itu suatu proses yang panjang sekali. Padahal, ujungnya entrepreneur itu di situ, ujungnya ketika dia bertindak. Itu kuadran dibagi empat: tahu, bisa, terampil, lalu mungkin jadi profesional, atau untuk orang seperti saya, entrepreneur. Saya kira, pengalaman yang saya gambarkan itu (dalam diagram tentang konsep kompetensi) milik saya seorang, sebelumnya tidak ada, sesudahnya juga tidak ada. Mungkin itu keunikan saya. Kenapa saya agak sinis kepada mereka yang sarjana ini, karena ada satu hal yang saya prihatin. Otak mereka itu sudah terpenjara. Anda pelajari teori. Teori dari buku. Isinya buku itu apa? Dikaitkan dengan waktu, buku itu isinya hari kemarin dan hari-hari sebelum kemarin. Kalau dianalogikan dengan makanan: makanan hari ini enak. Makanan kemarin basi, tetapi masih bisa dimakan. Makanan minggu lalu, sampah. Nah, itu yang Anda masukkan ke dalam otak Anda. Anda tak punya kebebasan. Anda dibelenggu. Sekarang kita bersimulasi, untuk menunjukkan kalau otak Anda terbelenggu dan Anda harus akui kalau Anda itu bodoh (tertawa). Orang dagang di dunia itu cari untung, kan? Kalau saya katakan, saya dagang itu cari rugi masuk nalar Anda enggak? Masuk logika Anda enggak? Enggak. Bener kan? Spontanitas Anda bilang enggak. Ini saya mau menuju kalau Anda itu bodoh, ya. Orang dagang yang cari untung itu, untung terus enggak? (Tidak-jawaban penulis). Berarti, kalau orang dagang yang cari rugi itu, rugi terus enggak? (Tidak-jawaban penulis). Sama juga. (tertawa). Saya buktikan, otak Anda memang terpenjara karena dari kecil diajarkan, dagang itu cari untung. Di sekolah masih diajarkan lagi: dagang cari untung. Enggak pernah diajarkan, dagang itu cari rugi. Tapi, ketika orang mengatakan, dagang cari rugi, otak Anda enggak bisa bebas. Itu yang saya mau katakan, otak Anda dibelenggu, tidak bebas lagi. Jadi, sesuatu yang seharusnya sederhana sekalipun Anda tidak bisa mikir. Seorang entrepreneur tidak bisa begitu. Untuk mengonversi para sarjana ini menjadi entrepreneur, sulit sekali. Sudah tahu begitu, yang namanya Ciputra, kok, bikin universitas entrepreneur. Tidak masuk akal saya. Otak yang masih bersih diisi sama sampah. Itu buku saya, kan, sampah (Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila! Seni Berpikir, Bersikap, dan Bertindak dari Wiraswastawan Sejati). Setelah Anda baca, sampah, kan (tertawa). Pengertian Anda apa? Kalau saya lebih kasar lagi. Otak sarjana ini, tidak terlepas apakah dia seorang rektor, dekan, dosen, sampai sarjana, di depan saya, bodoh semua orang-orang itu. Karena otak mereka itu, isinya sampah. Nah, kalau saya katakan otak mereka itu isinya sampah, kenapa? Saya kira, yang saya respect (hormat), dari semua fakultas, adalah fakultas kedokteran, termasuk kedokteran hewan. Kenapa? Ada orang belajar di fakultas kedokteran. Setelah belajar, dia jadi dokter. Kalau dokter, apakah dokter manusia atau hewan, dari awal, senior-seniornya dan dosen-dosennya meneladani dia. Dari yang sederhana saja: cara bedah bagaimana, cara menjahit bagaimana. Siswa-siswa dari kedokteran ini dibimbing oleh dosen yang ada di lapangan. Nggak mungkin dokter nggak ada di lapangan, bisa mati semualah orang. Ya, kan? Di seberang sana, ada fakultas pertanian. Dia belajar pertanian. Setelah selesai, yang dia dapat, pengamatan saya, yang ekstrem dia jadi profesor, doktor, bla-bla-bla. Bisa satu meter tuh panjang predikatnya. Dia enggak jadi petani. Kenapa? Sistem kita ini, yang namanya fakultas pertanian, diajar oleh profesor bla-bla-bla yang tak pernah bertani. Kalau sekolah kedokteran, dia diteladani senior-seniornya yang sudah jadi dokter. Dan semua fakultas di luar negeri begitu. Di Jepang, saya lihat orang sedang bertani. Saya tanya, sekolah kamu apa? ’Oh saya PhD’. Dia di lapangan. Coba sebutkan nama seorang sarjana (di Indonesia) yang bertani. Artinya sistem pendidikannya salah? Hal itu saya setuju. Makanya saya bilang, dari semua fakultas, yang saya paling setuju adalah fakultas kedokteran. Prinsipnya apa yang saya bilang: keteladanan. Untuk jadi entrepreneur harus sebelum dia terkontaminasi. Kalau sudah terkontaminasi dan terpenjara, agak sulit karena seorang entrepreneur itu, dia harus merdeka otaknya memikir macam-macam. Bukan berarti sekolah dihapus? Apa pernah saya bilang sekolah dihapus? Saya enggak pernah bilang. Kuliah tetap penting? Saya enggak tahu. Karena semua orang yang sarjana itu di mata saya goblok. Jangankan sarjananya, rektor dan dekannya saja goblok, kok. (tertawa) Apakah untuk jadi entrepreneur orang harus belajar sendiri, diajari, atau dari alam? Kamu jangan kaget kalau saya bikin gambar bahwa semua orang bisa jadi entrepreneur. Itu sederhana. Cuma yang namanya sederhana itu, kan, susah buat orang pinter. Dibikin rumit, kan. Ketika kita mengajak dia berpikir sederhana, dia jadi goblok banget. Susah mengajak orang pinter berpikir sederhana. Itulah kegoblokan orang pinter. Kenapa harus rumit? Karena otaknya sudah dibelenggu. Kalau otaknya bebas, santai saja. Kita ngomong apakah belajar itu perlu. Saya nggak pernah bilang belajar itu nggak perlu. Saya juga enggak pernah bilang belajar itu nggak usah. Ada buku yang cepat sekali habisnya: Mau Kaya, Buat Apa Sekolah! Kalau dibalik dengan bahasa sehari-hari yang enak: Elu Sekolah? Kapan Kayanya? (tertawa) Saya tidak punya basis, tidak sekolah. Saya ini orang bodoh. Nah, kebodohan ini yang menjadi kekuatan saya. Dan itulah kelemahan Anda. Karena Anda pintar, Anda jadi bodoh. Ketika ada kebutuhan untuk tahu, saya mencari sendiri yang efektif, tidak general. Saya tidak perlu belajar ilmu kedokteran untuk bisa beternak ayam. Jadi, syarat yang dituntut dari seorang entrepreneur? Namanya kebebasan mengembara dengan pikiran. Itu kekuatan seorang entrepreneur. Syarat pertama yang dituntut dari seorang entrepreneur adalah dia punya otak yang tidak terbatas. Tidak tertekan apa pun. Tanpa tekanan apa pun di pundaknya. Setelah itu ada pra-kondisinya. Apa prakondisinya? (Bob membuat sketsa di kertas tentang modal-roh seorang entrepreneur. Lihat gambar) Semudah ini. Di (bagian lingkaran) bawah ada do: ”melangkah”. Di atas ada result: ”akibat”. Akibat ini jalan ke dua arah. Arah positif, arah negatif. Semua orang ingin menghindari yang negatif. Tapi, orang tidak dapat pelajaran apa pun dari akibat yang positif. Dari negatif dia akan belajar banyak. Jadi, mana yang diambil? Karena ini akibat, harus diambil dua-duanya. No choice. Kehidupan seorang entrepreneur ada di dua-duanya, bukan salah satu. Ini standar kognitif. Kita belajar pola pikir, mind set. Anda melangkah saja. Just go. Untuk orang pintar, belahan ini (menunjuk bagian atas lingkaran) goal. Belahan ini (bagian bawah) namanya plan. Dia berencana dan berwacana. Kapan kerjanya? (tertawa) Saya tidak pernah punya tujuan. Karena tidak punya tujuan, saya tidak perlu berencana. Tapi, saya tidak katakan mutlak tidak perlu berencana. Saya berencana, untuk besok, tapi tidak untuk 10 tahun. Yang penting: dijalankan dan langsung dilaksanakan. Tidak ditunggu. Plan while you walk. Saya tanya? Melangkah itu sulit tidak? Tidak. Artinya apa? Semua orang bisa melakukan ini. Setiap melangkah punya akibat. Akibatnya apa, dia membuat satu langkah. Perlu tujuan? tidak perlu. Karena ketika dia melangkah, dia bisa lihat, enaknya ke mana? Ke samping ke depan atau ke belakang. Tapi, Anda tidak bisa bilang itu sebelum Anda melangkah. Setelah melangkah 10 langkah, Anda lihat, ke mana, ya, ini enaknya? Itulah yang namanya pragmatis. Tidak mikir. Di situlah dia tentukan, maju terus atau mencong dikit. Inilah fatalnya (orang yang tinggi pendidikan akademisnya, sambil menyebut nama). Dia terikat dengan ini. Akibatnya apa? Tenaganya terkuras untuk mengikuti sesuatu yang dia buat sendiri yang menyiksa dirinya sendiri. Buat apa? Pembicaraan saya ini ada logikanya enggak, sih? Isinya logika semua, kan. Nalar kan. Apa selanjutnya? Prakondisi. Pertama: hilangkan rasa takut. Saya tidak punya rasa takut. Bagaimana saya melakukannya? Ala bisa karena biasa. Caranya, dengan do, melangkah. Kedua, tidak boleh mengharap. Di dunia ekonomi, di kampus, diajarkan harus punya harapan sebanyak mungkin, karena itu adalah daya ungkit, leverage. Saya bilang, tidak boleh. Karena banyak orang tidak sadar, di belakang harapan ada banyak kekecewaan. Kalau tidak mau kecewa, tidak boleh berharap. Ketiga, melepaskan belenggu pikiran. Harus jadi orang bebas, sebebas-bebasnya. Belenggu pikiran, bahasa sananya pola pikir. Contohnya: (pola pikir jika) orang dagang di mana-mana cari untung. Itu belenggu pikiran. Setelah prakondisi? Ada sandaran-sandaran. Pertama, harus punya mau. Kedua, punya tekad yang bulat, bahasa sananya, komitmen, determination. Ketiga, ini yang mengakibatkan seseorang bisa jalan: keberanian mengambil peluang. Keempat, jangan cengeng, tahan banting. Terakhir, ini faktor yang menjadikan seseorang jadi entrepreneur: bersyurkur kepada Pencipta karena Dirinyalah kita bisa maju. Inilah modal dan rohnya seorang pengusaha. Orang bicara modal, benda-benda modal macam-macam. Uang. Itu nomor 100 berapa tuh. Anda entrepreneur yang ditokohkan, pionir dalam hal telur dan ayam broiler, sayuran hidroponik. Reputasi Kem Chicks tinggi sekali. Faktanya, Bob Sadino tidak bisa dikategorikan sebagai konglomerat. Tidak dan tidak mau. Kalau orang tanya, Kem Chicks itu begitu mudah diperbanyak. Pionir supermarket (di Indonesia) itu cuma tiga: Gelael, Hero, Kem Chicks. Gelael dan Hero punya ide untuk dikembangkan. Pikiran Anda, kenapa saya tidak mau membesarkan Kem Chicks? Kamu baca bab pertama (buku: Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!): ”Memilih Miskin”. Apa itu terjemahannya, saya memilih miskin? Itu satu pertanyaan aneh. Orang mau kaya, saya memilih miskin. Kalau disandarkan kepada kehidupan sehari-hari saya? Kamu suka hamburger? Sekarang, kamu saya kasih hamburger. Besok saya kasih hamburger. Bosan kan. Saya ini bosan kaya. (tertawa) Saya dari kecil sudah kaya. Saya minta apa saja dari ayah, hari ini saya dapat. Paling lambat besok. Gaji saya di Eropa cukup buat saya ganti mobil, dua tahun sekali. Kalau libur, kantor yang bayarin. Saya bekerja, istri saya bekerja. Gaji saya cukup besar. Saya mewah. Kamu pernah kaya? (tidak-jawaban penulis) Nah, kamu nggak bisa cerita. Karena kamu nggak pernah kaya. (tertawa). Kita kembangkan lagi. Menjadi kaya, susah apa gampang? (Susah-jawaban penulis). Jadi miskin? (Gampang-jawaban penulis). Saya gagal jadi miskin tuh. (tertawa) Jadi, ini sebuah cerita tentang orang yang bosan kaya, dan gagal miskin. Itulah Bob Sadino. (tertawa) Kenapa saya cuma mau Kem Chicks satu saja? Kembali, saya takut kaya dong. Saya sudah pernah kaya. Masa mau kaya lagi. Dan itu dibuktikan oleh Hero dan Gelael yang menelepon saya. ’Bob, elu yang paling bener, Bob’. Saya ngomong bahasa Belanda kalau sama Dick Gelael (pendiri supermarket Gelael). Kenapa Dick? ’Elu deh yang paling bener. Kepala gue pusing sekarang. Uang gue di mana-mana, enggak tahu deh, acak-acakan. Kebanyakan. Akhirnya, gue jual deh. (tertawa). Saat muda, Anda keluar dari perusahaan pelayaran di luar negeri dengan gaji yang besar, lalu sengaja jadi sopir, jadi kuli. Tidak pernah sedikit pun punya rasa untuk menyerah jadi miskin? Nggak mungkin. Itu yang saya cari kok. Dari mana kekuatan, dari mana tenaga yang saya dapat (untuk bertahan)? Dari istri. Tenaga itu dari dia dong. Sepatah kata pun komentar tidak keluar dari dia ketika saya bilang, ’Mah saya besok enggak mau kerja.’ Jika ada sepatah kata komentar dari dia, apa pun, saya enggak jadi saya dan kita enggak komunikasi hari ini. Jadi, ada yang pepatah katakan, behind the strong man, there is a strong woman. Saya tambahkan lagi, ternyata silence is powerful. Coba deh kalau dia katakan satu patah kata, saya enggak jadi begini. Dia tak komentar sedikit pun. Dia ikuti. Dia ikuti kemauan saya jadi miskin. Padahal, dia anak manja. Keluarganya, satu diplomat di Jerman, satu kakaknya dokter. Dia sama dah dengan keluarga saya. Keluarga berpunya. Andaikata saat itu saya katakan, sudahlah kamu kembali kerja di Bank Indonesia, mungkin gaji dia sebulan bisa buat kami makan tiga-empat bulan. Tapi, saya sebagai suami punya kebanggaan dong. Masa istri yang kerja. Pantang saya. Enggak mau saya. Kalau hitungan saya, selalu laki-laki yang cari duit. Apakah Anda menyebarkan juga soal entrepreneurship di lingkungan sendiri? Saya lakukan sebagai meneladani. Tapi, jangan dibilang orang yang saya teladani bisa jalan semua. Ada contoh yang berhasil? Ada. Kamu tahu yang namanya Cwie Mie (Malang). Dia enam tahun kerja sama saya. Lalu, dia bilang, ’Saya sudah enam tahun, saya mau mundur’. Kamu mau apa? ’Ya, saya mau berdiri sendiri’. Apa yang kamu butuhkan? ’Enggak, saya mau ikut keteladanan Pak Bob’. Kamu butuh berapa? ’Saya tidak perlu apa-apa. Bapak, kan, enggak perlu apa-apa juga. Saya juga nggak perlu apa-apa’. Sekarang, Cwi Mie ada di mana-mana. Di Depok, di Kota, di Malang ada, di Padang. Dia anak Padang, si Rully (Rully adalah nama panggilan Chairul Rivai, pemilik Hot Cwie Mie Malang). Ada jutaan orang miskin di Indonesia, bagaimana mengentaskannya? Menolongnya? Anda keluar dari Kompas besok, bikin usaha. Bukan Bob Sadino yang bisa menolong mereka, bukan pemerintah. Kalau Anda keluar dari Kompas dan bikin usaha, bisa menolong 20 orang, berapa banyak yang bisa ditolong kalau banyak yang juga mengambil langkah seperti Anda. Ada 52 juta sektor informal. Apakah ada yang bisa dilakukan untuk mengangkat mereka atau biarkan mereka mencari jalannya? Biarkan mereka sendiri. Kalau dikaitkan dengan pemerintah, pasti nantinya dikaitkan dengan koperasi. Apa yang dilakukan? Dikasih modal. Kalau dikasih uang sebelum yang satu itu (memiliki modal atau roh entrepreneurship), berbahaya. Saya tahu, siapa pun yang mau membantu sektor informal, ujungnya adalah memberi modal, uang. Itu menjerumuskan. Saat ini, bidang usaha apa yang potensial? Jangan tanya bidang yang potensial apa karena semua bidang bisa dibilang potensial. Yang harus dilakukan adalah melangkah. Kalau Anda melangkah dan jatuh, ngapain? Bangun lagi. Jatuh lagi, ya, bangun lagi. Jatuh 900 kali, bangun 900 kali. Jangan banyak berpikir. Kalau tidak ada ide, apa yang ada di depan Anda? Itu yang Anda jalankan. Ada asbak, bikin asbak. Semua anggota tubuh Anda harus bekerja. Orang-orang seperti saya adalah pencari risiko, bahkan saya adalah pemburu risiko. Sekarang, masih ada yang Anda inginkan? Mau apa lagi? Tidak ada lagi yang saya mau. Saya mau bantah pernyataan yang bilang, selama orang masih hidup, pasti ada kebutuhan! Saya tidak punya kebutuhan. Saya sudah punya semua. Kebutuhan saya sekarang adalah sharing, berbagi. Saya tidak akan berhenti, tidak akan puas sebelum goblok-goblokin semua orang. (tertawa) Sumber : KOMPAS/SUBUR TJAHJONO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar