Tempatnya para pecinta kopi untuk berbagi dan bercerita tentang pengalaman hidupnya saat menjadi pelajar, mahasiswa, karyawan ataupun sampai menjadi orang sukses. Boleh juga untuk berbagi ilmu agama atau syiar-syiar atau bercerita tentang sejarah islam. amanah baik serta perjuangan umat islam hingga saat ini.
Senin, 17 September 2012
Ketika Prinsip “Time is Money” Menampar Ayah
Ayah adalah sosok pekerja keras yang patut diacungi jempol begitu kata orang-orang dan rekan-rekan kerjanya. Dia amat mencintai pekerjaannya, bahkan ayah bisa dikatakan sosok yang gila dengan pekerjaan. Tidak pernah ada waktu yang dilewatinya tanpa menyangkut masalah pekerjaan. Aku, adikku dan ibu terkadang dibuat tidak nyaman dengan kecanduan kerjanya.
Dalam kelelahan biasanya ia pulang langsung terhuyung di atas tempat tidur, jika ada hal yang kurang nyaman atau mengusiknya berkenaan dengan rumah, aku, adik atau ibu maka ayah kerap menjadi sosok yang mengerikan, ia bisa mengamuk dan marah besar, dan tak jarang ibu menjadi sasaran tinjunya.
Sebenarnya kami tidak pernah kekurangan apapun juga, namun aku dan adikku kerap cemburu dengan teman-teman di sekolah. Kecemburuan itu membuat perih hati kami, kami sungguh cemburu dengan mereka yang memiliki keluarga yang hangat, di mana waktu ayah ibunya selalu ada buat mereka.
Pernah satu kali aku memohon pada ayah agar meluangkan waktunya satu jam saja untuk mengikuti acara di sekolahku, namun ayah membentakku amat keras ” Jangan jadi orang yang cengeng Vi, Time Is Money…kau tahu?, kalau gak ada uang bisa apa kita? kau mau kita hidup seperti pengemis di jalanan? “.Lalu ibu mendekatinya dan berkata amat pelan ” ayah, Vivi bilang kan hanya untuk satu jam?, apa tidak bisa sekali ini saja ayah hadir di sana? “.
Lalu ayah dengan mata berapi-api membentak ibu ” Hei…bu, kau yang mendidik anak-anak jadi orang yang cengeng, apa akan mati si Vivi kalau ayah tak hadir di sana, satu jam itu berharga bu, kalau ada klien kita datang dan ayah tidak ada bisa-bisa kita rugi jutaan atau bahkan ratusan juta”.
“Time Is Money, kak…” senyum kecut adikku melirikku dari pintu kamarnya. Ayah setiap hari sibuk mencari uang, dan uang. Herannya uang yang dicarinya walaupun semakin banyak semakin tak cukup pula. Senin sampai minggu ayah sibuk selalu, nah kalau malam minggu ayah bisa pulang menjelang subuh alasannya ia melewati malam dengan rekannya, kliennya untuk menjaga relasi, menjaga hubungan kerja dan sebagainya. Satu alasan yang juga membuat cemburu hati kami, ayah menjaga hubungan baik dengan rekannya, kliennya tapi ayah tak berpikiran ingin menjaga hubungan yang baik dan menyenangkan hati kami.
Aku sempat berpikir andai saja aku punya uang untuk membeli sejam saja waktu ayah….ah tapi aku tak punya uang, di celenganku hanya ada uang koin 100, 200, dan 500-an. Bagaimana itu bisa cukup membeli waktu ayah yang sejamnya bernilai jutaan dan bahkan ratusan juta itu?
Setiap mau tidur ibu berdoa amat lama, air matanya selalu saja mengalir…dan ku dengar ayah selalu disebut-sebut dalam doanya. Jika hari minggu, hari dimana seharusnya aktivitas dihentikan dan beribadah kepada Tuhan, namun tidak begitu dengan ayah. Ayah melihat itu sebagai satu kesempatan, kesempatan untuk bersenang-senang dengan klien, yah dalam tiap kesempatan intinya adalah uang,uang dan uang.
Belasan tahun ayah adalah pribadi yang tak pernah berubah, prinsipnya juga tetap sama “time is money”. Sampai akhirnya ayah kerap merasakan kepala amat sakit, dan pandangannya kabur. Ibu menyuruh ayah untuk periksa ke rumah sakit namun lagi-lagi ayah berkata ” time is money ” sampai akhirnya ayah dalam satu kesempatan pingsan di tempat kerjanya.
Ayah di diagnosa menderita tumor otak dan ia kemudian menjalani operasi di sebuah rumah sakit besar. Setelah operasi ternyata keadaaannya tak membaik, ia tak sadarkan diri alias koma sangat lama di ruang ICU rumah sakit. Dua bulan lamanya ia terbaring diam, dengan berbagai alat dan selang di tubuhnya. Namun ketika didoakan oleh pendeta ia kemudian mulai membuka mata. Mulai menggerakkan jari namun dia tetap saja diam membisu, bahkan ayah nampaknya tidak respon dengan apa yang ada di depan matanya. Ayah buta!!.
Ketika kami berbicara padanya atau rekan-rekannya datang menyapanya hanya air mata saja yang keluar dari kedua matanya. Aku bahkan baru tahu ternyata ayahku bisa juga menangis…air matanya membuat sedih hatiku semakin dalam, aku sungguh kasihan, ia yang terbaring sama sekali kelihatan berbeda jauh dengan ayahku yang biasanya energik, bersemangat dan berapi-api .
Setelah 1 bulan lebih sadar dari komanya, ayah kemudian di bawa pulang. Kondisinya tidaklah sama seperti semula, ayah tetap saja tak bisa melihat dan mencium bau apa saja. Ia juga tak bisa bangun, duduk ataupun berjalan. Namun kami tetap bersyukur setidaknya ayah bisa makan tanpa pakai selang NGT dan bisa berbicara kembali.
Hal yang ditutupi ibu akhirnya diketahui ayah juga, mulanya kami berpikir ayah akan marah atau ia akan hilang kendali ketika mengetahui harta benda hasil pencariannya terjual untuk biaya rumah sakit. Namun ternyata tidak, ayah berkata dengan tenang “maafkan ayah bu, smua terjadi karena prinsip ayah yang salah. Ayah selalu berkata “time is money” sampai akhirnya ayah benar-benar menyadari time, benar-benar is money. Satu hari saja ayah tahu pasti mahal untuk membayar uang oksigen, uang untuk penggunaan ventilator supaya ayah bisa tetap bernafas dan lainnya. Ayah dulu tak pernah berpikir apalagi bersyukur dengan udara yang bisa dihirup dengan cuma-cuma, dengan oksigen yang Tuhan sediakan di alam”.
” Iya ayah itu benar, satu hari di Icu habisnya berjuta-juta yah, jerih payah ayah yang dicari siang dan malam akhirnya terjual semua untuk biaya di rumah sakit. Tapi Ibu bersyukur ayah masih ada di tengah-tengah kami sekarang ini ” ujar ibu penuh haru.
Untuk pertama kalinya aku merasa ayah adalah pribadi yang membanggakan, dan doa tulus kami selalu ada untuk pemulihan ayahku tercinta.
***
Manusia kerap lupa bersyukur dengan apa yang Tuhan beri, luangkan sedikit saja waktu untukNya…jangan seperti ayah Vivi yang selalu berprinsip “time is money, time is money ” sampai akhirnya ia terpaksa ditampar oleh kenyataan kalau time, benar-benar is money. Satu jam saja untuk tetap bisa bertahan hidup akhirnya ia harus mengeluarkan banyak uang bahkan sampai harta bendanya terjual habis. Sia-sia sudah apa yang dicarinya siang dan malam itu….namun setiap masalah selalu ada hikmahnya. Maka ayah Vivipun akhirnya sadar bahwa uang itu bukanlah apa-apa. Ada yang jauh lebih penting dari itu, yaitu bangunlah keintiman dengan Tuhan maka Tuhan akan beri damai sukacita dan pelihara hidup kita.
Gara-Gara Iddah, Pemimpin Yahudi Masuk Islam
socyberty.com
Gara-Gara Iddah, Pemimpin Yahudi Masuk Islam
Peneliti genetika yang juga pemimpin yahudi di Albert Einstein College menjadi mualaf.
Berita Terkait
REPUBLIKA.CO.ID, AMERIKA -- Robert Guilhem, pakar genetika dan pemimpin yahudi di Albert Einstein College menyatakan dengan tegas soal keislamannya. Dia masuk Islam setelah kagum dengan ayat-ayat Al-Quran tentang masa iddah wanita muslimah selama tiga bulan. Massa iddah merupakan massa tunggu perempuan selama tiga bulan, selama proses dicerai suaminya.
Seperti dikutip dari societyberty.com, hasil penelitian yang dilakukannya menunjukkan, massa iddah wanita sesuai dengan ayat-ayat yang tercantum di Alquran. Hasil studi itu menyimpulkan hubungan intim suami istri menyebabkan laki-laki meninggalkan sidik khususnya pada perempuan.
Dia mengatakan jika pasangan suami istri (pasutri) tidak bersetubuh, maka tanda itu secara perlahan-lahan akan hilang antara 25-30 persen. Gelhem menambahkan, tanda tersebut akan hilang secara keseluruhan setelah tiga bulan berlalu. Karena itu, perempuan yang dicerai akan siap menerima sidik khusus laki-laki lainnya setelah tiga bulan.
Bukti empiris ini mendorong pakar genetika Yahudi ini melakukan penelitian dan pembuktian lain di sebuah perkampungan Muslim Afrika di Amerika. Dalam studinya, ia menemukan setiap wanita di sana hanya mengandung sidik khusus dari pasangan mereka saja.
Penelitian serupa dilakukannya di perkampungan nonmuslim Amerika. Hasil penelitian membuktikan wanita di sana yang hamil memiliki jejak sidik dua hingga tiga laki-laki. Ini berarti, wanita-wanita non-muslim di sana melakukan hubungan intim selain pernikahannya yang sah.
Sang pakar juga melakukan penelitian kepada istrinya sendiri. Hasilnya menunjukkan istrinya ternyata memiliki tiga rekam sidik laki-laki alias istrinya berselingkuh. Dari penelitiannya, hanya satu dari tiga anaknya saja berasal dari dirinya.
Setelah penelitian-penelitian tersebut, dia akhirnya memutuskan untuk masuk Islam. Ia meyakini hanya Islam lah yang menjaga martabat perempuan dan menjaga keutuhan kehidupan sosial. Ia yakin bahwa perempuan muslimah adalah yang paling bersih di muka bumi ini.
Redaktur: Dewi Mardiani
Reporter: Umi Lailatul
source:
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/12/08/31/m9lz2z-garagara-iddah-pemimpin-yahudi-masuk-islam
Langganan:
Komentar (Atom)